Peluang Indonesia di M7 Kian Menipis, Ini Akar Masalah Alter Ego dan ONIC ID
Foto / Ravly Esports ID
Mobile Legends

Peluang Indonesia di M7 Kian Menipis, Ini Akar Masalah Alter Ego dan ONIC ID

Aldonov Danoza - Kamis, 22 Januari 2026
Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Kekalahan Alter Ego dari Aurora Gaming PH pada 21 Januari 2026 di Knockout Stage M7 World Championship menjadi titik balik yang cukup pahit bagi skena Mobile Legends Indonesia. Bukan hanya karena Alter Ego harus turun ke Lower Bracket, tetapi juga karena kekalahan tersebut memperlihatkan celah serius dalam kesiapan tim Indonesia menghadapi tekanan level dunia. Situasi semakin genting ketika ONIC ID harus bertarung hidup-mati melawan Team Liquid PH di Lower Bracket keesokan harinya, yang menentukan kelangsungan napas perwakilan Merah Putih di ajang tertinggi ini.

Secara realistis, peluang Indonesia untuk menjuarai M7 saat ini diperkirakan berada di kisaran 15 hingga 25 persen saja. Angka ini bukan sekadar pesimisme emosional, melainkan refleksi dari struktur braket dan kualitas lawan yang dihadapi oleh kedua tim Indonesia saat ini. Dengan Alter Ego yang sudah berada di Lower Bracket dan ONIC ID yang harus menghadapi “raja terakhir” dari Filipina, jalur menuju Grand Final menjadi jauh lebih panjang, lebih berat, dan hampir tanpa ruang untuk melakukan kesalahan sekecil apa pun.

Masalah Struktural di Tubuh Alter Ego

Pada laga melawan Aurora PH, masalah utama Alter Ego ternyata bukan semata-mata terletak pada mekanik individu para pemainnya. Justru yang paling terlihat mencolok adalah kekalahan dalam tempo permainan dan kontrol objektif yang sangat dominan dilakukan oleh tim lawan. Aurora tampil sangat disiplin dalam mengatur rotasi, mengunci area sungai, dan memaksa Alter Ego bermain reaktif, yang menyebabkan AE kehilangan identitas agresif yang biasanya menjadi kekuatan utama mereka di liga domestik.

Pemilihan draf dari Alter Ego juga patut dipertanyakan karena beberapa komposisi terlihat tidak cukup fleksibel untuk menghadapi tekanan mid-game dari Aurora. Akibatnya, meski Alter Ego sempat menunjukkan perlawanan, mereka kesulitan menjaga konsistensi dari fase awal hingga fase akhir pertandingan. Fakta bahwa Alter Ego hanya mampu mengamankan satu poin dalam seri tersebut memperjelas bahwa gap yang terjadi bukan sebuah kebetulan, melainkan masalah struktural dalam memahami makro strategi lawan yang sangat matang.

ONIC ID dan Kesulitan Adaptasi Global

Performa ONIC ID di M7 juga mengundang tanda tanya besar bagi para penggemar, mengingat status mereka sebagai juara MPL ID Season 16. Ekspektasi terhadap ONIC tentu sangat tinggi, namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya di mana permainan mereka terlihat lebih ragu, kurang tajam, dan tidak seefisien saat berlaga di liga lokal. Ketergantungan pada pola permainan yang terlalu “aman” menjadi bumerang ketika mereka harus berhadapan dengan tim Filipina yang sangat piawai dalam menghukum kesalahan kecil.

Selain itu, ONIC tampak kesulitan beradaptasi dengan variasi draf yang dibawa oleh tim-tim luar region Indonesia. Ketika rencana awal tidak berjalan sesuai harapan, mereka sering kali kehilangan inisiatif dan dipaksa bermain bertahan, sesuatu yang bukan merupakan ciri khas ONIC saat berada di puncak performa. Ketidakmampuan untuk beralih strategi secara cepat di tengah pertandingan membuat mereka sering kali tertinggal dalam perolehan ekonomi dan penguasaan peta yang krusial.

Dominasi Filipina dan Masa Depan Indonesia

Apabila ONIC ID akhirnya tumbang di Lower Bracket dan Alter Ego gagal melakukan perjalanan ajaib atau miracle run, maka Grand Final M7 kemungkinan besar akan didominasi oleh tim asal Filipina. Aurora Gaming PH saat ini terlihat sebagai kandidat terkuat juara dengan permainan yang sangat stabil, draf yang solid, serta mental kompetitif yang matang. Hal ini menjadi peringatan keras bagi ekosistem kompetitif di Indonesia bahwa kualitas permainan di tingkat global telah berkembang jauh lebih pesat.

M7 2026 sejauh ini menunjukkan fakta pahit bahwa Indonesia tidak hanya kalah secara skor, tetapi tertinggal dalam aspek makro, adaptasi draf, dan manajemen tempo permainan. Untuk kembali mendominasi panggung dunia, tim-tim Indonesia harus berhenti berpuas diri dengan prestasi domestik dan mulai membangun sistem pelatihan yang mampu menyaingi standar strategi dari region lain. Harapan masih ada, namun hal tersebut menuntut kedewasaan strategi dan keberanian untuk berevolusi secara total dalam menghadapi persaingan di masa depan.

Bagikan
Ditulis Oleh

Aldonov Danoza

Berita Terkait